Oleh: Abd. Wahid HR (Departemen MSDK, Bidang PA KOMEKO UM 2010)
“Hidup adalah perjuangan”. Sebuah klise kuno yang sering kali orang lontarkan dan mayoritas manusia mengakui kebenaran akan hal itu. Bukan hanya orang islam, dibarat pun juga mengakui urgensitas jihad dalam kehidupan ini. Hal tersebut terbukti dengan berkembang hukum kausalitas, dalam implementasinya mereka meyakini bahwa hasil yang diperoleh bukan terjadi dengan sendirinya, melainkan diawali dengan perjuangan untuk mewujudkannya. Dalam islam pun juga seperti itu, seperti firman Allah dalam surat Ar-ra’du ayat 11 yang artinya :
“Sesungguhnya Allah tidak akan merubah nasib suatu kaum, kecuali kaum itu sendiri yang merubahnya”
Secara eksplisit Tuhan menginginkan umat-Nya untuk terus berjihad mencapai apa yang diinginkan. Tidak jarang penulis mendengar dari lontaran teman-teman mahasiswa yang sedang memotivasi sahabatnya yang patah hati, “Hidup adalah perjuangan boy, demikian halnya dengan cinta. Ayow berjuang…berjuang….dan terus berjuang”. Diakui atau tidak dan disadari atau tidak, klise ini sebenarnya sudah tertanam sangat dalam pada diri setiap manusia, apalagi mahasiswa yang aktifitasnya tidak terlepas dari perjuangan. Namun yang menjadi persoalan adalah apakah klise ini telah menjiwai dari setiap gerak langkah manusia sehingga bermuara pada pemikiran, ucapan, dan prilakunya. Lalu timbul pertanyaan baru, apa yang harus diperjuangkan?
Esensinya ada banyak hal yang harus diperjuangkan oleh manusia,baik dirinya sebagai makhluk individu atau dirinya sebagai makhluk sosial. Namun semuanya akan tercakup pada dirinya sebagai makhluk yang beragama. Agama islam, yang telah mendapatkan validitas “perfect” dalam persepektif Allah, diturunkan dalam rangka menjustifikasi fitrah yang diciptakan dalam diri manusia, sebagaimana sabda Nabi Muhammada SAW :
“Setiap manusia dilahirkan dalam keadaan fitrah”
Secara tidak langsung, setiap umat islam memiliki kewajiban untuk memperjuangkan tegaknya nilai-nilai yang diusung oleh islam, baik yang bersifat normatif maupun aspiratif.
Arti memperjuangkan tidak selamanya bermakna melaksanakan secara utuh ajaran-ajaran dalam agama islam, tetapi juga bermakna mengembangkannya. Dalam tindakan devotional (pembaktian) yang terbingkai dalam ibadah mahdhah¸yang dilakukan adalah berjihad untuk mengamalkannya tanpa harus mengembangkannya dalam konteks ruang dan waktu. Seperti kasus Abdurrahman Wahid (Gusdur) yang fenominal, dalam pendapatnya “Assalamu’alaikum” dapat diganti dengan “selamat pagi”. Tetapi tidak dalam sholat, beliau tetap tidak memperbolehkan mengganti “assalamu’alaikum” pada akhir sholat dengan “selamat pagi”, karena tindakan-tindakan yang berorientasi pada devotional vertikal adalah bersifat ajaran (dogma). Tetapi berbeda halnya dengan tindakan devotional dalam bingkai ibadah ghairu mahdhah, perjuangn disini diartikan dengan upaya untuk menegakkan nilai-nilai inspiratif dalam islam dengan mengembangkannya dalam konteks ruang dan waktu. Upaya, cara, dan wujud yang dilakukan Nabi Muhammad untuk menegakkan keadilan tentu akan berbeda dengan upaya, cara, dan wujud orang islam di Indonesia dalam menegakkan hal yang sama, walaupun memiliki subtansi yang sama. Sehingga dirasa penting untuk melakukan upaya-upaya menerjemahkan ajaran-ajaran islam yang universal dalam konteks keindonesiaan. Perjuangan semacam inilah yang dilakukan oleh para pemikir islam sesudah era 1980-an seperti Nur Kholis Madjid (Cak Nur), Abdurrahman Wahid (Gusdur), Amien Rais (Mas Amin), dan Jalaluddin Rakhmat (Kang Jalal) . Kemudia timbul pertanyaan, bagaimana cara memperjuangkan nilai-nilai keislaman sehingga mewarnai kehidupan manusia?
Kepemimpinan politik adalah salah satu jawabannya. Fakta historis menunjukkan bahwa kepemimpinan politik merupakan salah satu bentuk kepemimpinan islam yang diterapkan di Indonesia. Deddy Djamaluddin Malik dan Idi Subandy Ibrohim (1998) dalam bukunya menjelaskan bahwa terdapat tiga bentuk kepemimpinan islam di Indonesia. Pertama, kepemimpinan ulama yang sangat dominan dalam masyarakat muslim. Dalam kepemimpinan ini, ulama sebagai rujukan bertindak baik dalam wilayah sosial maupun politik. Kedua, kepemimpinan politikus islam sebagai penentu kecenderungan perilaku muslim. Selai sebagai pijakan moral dan politik, politikus juga menjadi identifikasi bagi keislaman mereka. Ketiga, kepemimpinan kaum intelektual muslim.
Kepemimpinan politik sebagai bentuk implementasi perjuangan struktural, yaitu perjuangan yang dilakukan dengan menempati posisi-posisi strategis sehingga dapat mempengaruhi kebijakan dan regulasi. Titik tekan dari perjuangan ini adalah mengupayakan menjadi driver sehingga dengan mudah menanamkan dan mengendalikan sesuai dengan nilai-nilai inspiratif yang diusung oleh agama islam. Dan yang terpenting bukanlah ”islamisasi birokrasi” ataupun “birokratisasi islam”, tetapi bagaimana nilai-nilai aspiratif islam, seperti keadilan, saling menghargai, dan saling menolong menjiwai dalam setiap gerak langkah birokrasi.
Selama ini sedikit sekali umat islam yang berjuang dalam wilayah struktural (politik), bahkan cenderung bersikap apatis, seakan-akan perjuangan melalui kekuasaan adalah negatif. Padahal tidak demikian, keduanya baik perjuangan struktural maupun kultural merupakan sebuah kemestian yang harus dilakukan dalam perjuangan dan bahkan akan efektif ketika keduanya berjalan dengan seimbang. Hal ini diakui oleh Aswab Mahasin (1993) bahwa kalau kedua pola itu bertemu, skenario demokratisasi akan berjalan damai. Dorongan demokrasi yang hanya muncul dari masyarakat bawah –sementara dilevel atas tidak menghendakinya- penyelesaiannya akan selalu dengan kekerasan. Maka dari itu, penting kiranya untuk menyeimbangkan antara struktural dan kultural. Bahkan Nabi Muhammad menganjurkan umatnya berjuang melalui struktural, seperti sabda beliau:
“Barang siapa yang melihat kemungkaran, maka rubahlah dengan kekuasaannya, atau dengan lisannya, atau dengan hatinya”.
Di Indonesia saja, sebagian pejuang islam yang menjadikan politik sebagai medan perjuangannya. Sebut saja Amien Rais, seperti yang diakui oleh Arief Afandi bahwa Mas Amien mewakili sosok intelektual muslim yang memperjuangkan aspirasi umat lewat saluran formal ditingkat struktural. Anas Urbaningrum pun juga demikian, beliau berusaha menduduki posisi-posisi strategis untuk menegakkan nilai-nilai islam di Indonesia.
Lalu bagaimanakah dengan anda kader-kader HMI Ekonomi Universitas Negeri Malang? Ada sebuah pernyataan yang sangat menarik untuk ditelaah bersama, yaitu :
“Ketika aku masih muda dan bebas berkhayal, aku bermimpi ingin mengubah dunia, seiring dengan bertambahnya usia dan kearifanku, kudapati bahwa dunia tak kunjung berubah, maka cita-cita itupun agak kupersempit, lalu kuputuskan hanya untuk mengubah negeriku, namun tampaknya hasrat itupun tiada hasil. Tatkala usiaku makin senja, dengan semangatku yang masih tersisa, kuputuskan untuk mengubah keluargaku, orang-orang yang paling dekat denganku, sayangnya mereka pun tidak mau dirubah. Kini, sementara aku berbaring menunggu ajal menjelang, tiba-tiba kusadari, andaikan yang pertama-tama yang kuubah adalah diriku, maka dengan menjadikan diriku sebagai teladan, mungkin aku bisa mengubah keluargaku, lalu berkat inspirasi dan dorongan mereka, bisa jadi akupun bisa memperbaiki negeriku, kemudian siapa tahu, bahkan aku bisa mengubah dunia”.
Untuk memulai sesuatu yang besar, bisa dimulai dari sesutu yang kecil. Apa kaitannya dengan perjuangan dan kader HMI KOMEKO? Kampus adalah miniatur kecil dari perjuangan yang harus dilakukan untuk menegakkan nilai-nilai keislaman sebelum masyarakat atau negara. Mari kita mulai perjuangan kita sebagai umat islam dari hal-hal yang kecil, yaitu kampus. Mari kita berjuang dikampus kita tercinta, mari kita tanamkan nilai-nilai keislaman dan tegakkan keadilan, melaui perjuangan struktural.
Filed under: 5-Karya Kader

plok plok polo plok!!!
salut